Mendaki itu SULIT atau MUDAH?
Mendaki
adalah salah satu cabang olahraga yang tergolong ekstrim, tapi sangat
digandrungi di era milenial ini. Mendaki biasanya dilakukan dengan
berjalan cepat atau berlari pada dataran tinggi yang memiliki variasi
tinggi berbeda seperti bukit, gunung, atau pegunungan. Semua orang dari
anak kecil hingga orang tua dapat melakukan pendakian dengan syarat
memiliki kesiapan fisik dan mental yang baik dan dalam stamina dan
kondisi yang bagus. Mengapa demikian?
Ketika mendaki, kesiapan fisik dan mental yang paling utama dibutuhkan karena mendaki termasuk olahraga ekstrim. Medan yang tidak diketahui sebelumnya, jarak tempuh yang cukup panjang, dan cuaca yang sering berubah tiba-tiba menjadi faktor utama agar kita menyiapkan fisik dan mental dalam kondisi prima. Selain itu, persiapan lain juga diperlukan dalam pendakian. Ada kalanya seseorang mendaki bukit atau gunung hanya di titik tertentu kemudian turun dan tidak aja tujuan khusus selain untuk berolahraga. Namun, kebanyakan dari pendaki memiliki tujuan bukan hanya untuk berolahraga melainkan juga untuk mencapai puncak. Puncak sebuah gunung yang telah dicapai menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang pendaki. Saya pun begitu.
Oleh sebab itu persiapan lain selain fisik dan mental seperti logistik, akomodasi, dan perizinan juga perlu disiapkan dengan matang. Sebelum mendaki, sesuai pengalaman saya, biasanya saya dan teman-teman yang ikut serta dalam kegiatan pendakian akan menentukan gunung apa yang akan didaki, tanggal pendakian, akomodasi, dan keperluan lainnya.
Persiapan yang pertama selain persiapan fisik dan mental adalah perizinan kepada orang tua. Setelah berdiskusi dan menentukan gunung apa yang akan didaki serta tanggal pendakian. Biasanya seorang pendaki harus meminta izin dengan jelas kepada orang tua. Mendaki bukanlah hal yang biasa dilakukan dan jangankan untuk mendaki, ketika akan bepergian kemana pun saya selalu meminta izin orang tua meskipun saya merantau. Bagi saya izin orang tua adalah hal yang paling utama karena di dalamnya terdapat doa untuk anaknya. Tentu saja setiap usaha harus disertai doa.
Persiapan kedua adalah olahraga yang cukup seperti berjalan kaki atau berlari kecil (jogging) kurang lebih 60 menit saja setiap minggu. Minimal 1 kali dalam seminggu. Tidak ada patokan pasti dalam berolahraga. Bagi setiap orang ada ukuran masing-masing yang berbeda sesuai kebutuhan dan kekuatan tubuh. Namun, ingat! Jangan terlalu memforsir diri dalam berolahraga. Anggap saja ini adalah latihan kecil agar tubuh kita terbiasa dengan perjalanan jauh yang akan kita tempuh nantinya. Kita juga harus menjaga stamina agar tetap prima untuk persiapan pendakian.
Persiapan ketiga yaitu daftar logistik. Logistik terdiri dari daftar makanan, pakaian, peralatan pendakian, obat-obatan, serta kebutuhan pendakian lainnya. Daftar makanan biasanya memperhitungkan beberapa hal seperti lamanya pendakian, jumlah anggota, selera makan, gunung yang akan dituju, berat beban, kandungan gizi yang memadai, dan irit air atau tidaknya sebuah masakan. Daftar pakaian juga mempertimbangkan hal-hal seperti lamanya pendakian, gunung yang akan dituju, berat beban, dan fungsi pakaian tersebut. Selanjutnya, daftar peralatan pendakian yang terdiri dari peralatan pribadi dan kelompok. Peralatan pribadi terdiri dari tas atau carrier, pakaian, sarung tangan, masker, kaos kaki, sepatu mendaki, jas hujan, matras, sleeping bag, senter atau head lamp, trekking pole, gaiter, kacamata, rain cover, obat-obatan pribadi, alat makan, survival kit. Sedangkan peralatan kelompok terdiri dari tenda, alat masak, tempat air, kotak P3K, dan peralatan lainnya seperti tisu, lap kain, lilin, pisau, golok, korek api, parapin, trash bag atau plastik sampah, webing, dan tali prusik untuk kondisi-kondisi tertentu yang bisa digunakan sesuai situasi dan kebutuhan.
Persiapan terakhir adalah akomodasi. Akomodasi terdiri dari biaya transportasi, pilihan kendaraan, tiket masuk atau perizinan mendaki, surat keterang sehat dari dokter, dan keperluan akomodasi lainnya.
Mendaki bagi saya merupakan hal yang sulit, tapi menjadi mudah jika dipersiapkan secara matang dan baik. Beberapa persiapan di atas adalah perbekalan dasar seorang pendaki. Pada praktiknya, sebuah pendakian tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak kendala juga yang menanti. Namun, jika kita memiliki usaha dan doa yang maksimal dalam menghadapi kendala itu, kita juga akan mendapatkan hasil yang bagus. Seperti halnya pepatah yang mengatakan "Usaha tidak pernah menghianati hasil!" Jika disertai dengan doa tentunya 😊. Jadi bagaimana mendaki menurut Anda?
Ketika mendaki, kesiapan fisik dan mental yang paling utama dibutuhkan karena mendaki termasuk olahraga ekstrim. Medan yang tidak diketahui sebelumnya, jarak tempuh yang cukup panjang, dan cuaca yang sering berubah tiba-tiba menjadi faktor utama agar kita menyiapkan fisik dan mental dalam kondisi prima. Selain itu, persiapan lain juga diperlukan dalam pendakian. Ada kalanya seseorang mendaki bukit atau gunung hanya di titik tertentu kemudian turun dan tidak aja tujuan khusus selain untuk berolahraga. Namun, kebanyakan dari pendaki memiliki tujuan bukan hanya untuk berolahraga melainkan juga untuk mencapai puncak. Puncak sebuah gunung yang telah dicapai menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang pendaki. Saya pun begitu.
Oleh sebab itu persiapan lain selain fisik dan mental seperti logistik, akomodasi, dan perizinan juga perlu disiapkan dengan matang. Sebelum mendaki, sesuai pengalaman saya, biasanya saya dan teman-teman yang ikut serta dalam kegiatan pendakian akan menentukan gunung apa yang akan didaki, tanggal pendakian, akomodasi, dan keperluan lainnya.
Persiapan yang pertama selain persiapan fisik dan mental adalah perizinan kepada orang tua. Setelah berdiskusi dan menentukan gunung apa yang akan didaki serta tanggal pendakian. Biasanya seorang pendaki harus meminta izin dengan jelas kepada orang tua. Mendaki bukanlah hal yang biasa dilakukan dan jangankan untuk mendaki, ketika akan bepergian kemana pun saya selalu meminta izin orang tua meskipun saya merantau. Bagi saya izin orang tua adalah hal yang paling utama karena di dalamnya terdapat doa untuk anaknya. Tentu saja setiap usaha harus disertai doa.
Persiapan kedua adalah olahraga yang cukup seperti berjalan kaki atau berlari kecil (jogging) kurang lebih 60 menit saja setiap minggu. Minimal 1 kali dalam seminggu. Tidak ada patokan pasti dalam berolahraga. Bagi setiap orang ada ukuran masing-masing yang berbeda sesuai kebutuhan dan kekuatan tubuh. Namun, ingat! Jangan terlalu memforsir diri dalam berolahraga. Anggap saja ini adalah latihan kecil agar tubuh kita terbiasa dengan perjalanan jauh yang akan kita tempuh nantinya. Kita juga harus menjaga stamina agar tetap prima untuk persiapan pendakian.
Persiapan ketiga yaitu daftar logistik. Logistik terdiri dari daftar makanan, pakaian, peralatan pendakian, obat-obatan, serta kebutuhan pendakian lainnya. Daftar makanan biasanya memperhitungkan beberapa hal seperti lamanya pendakian, jumlah anggota, selera makan, gunung yang akan dituju, berat beban, kandungan gizi yang memadai, dan irit air atau tidaknya sebuah masakan. Daftar pakaian juga mempertimbangkan hal-hal seperti lamanya pendakian, gunung yang akan dituju, berat beban, dan fungsi pakaian tersebut. Selanjutnya, daftar peralatan pendakian yang terdiri dari peralatan pribadi dan kelompok. Peralatan pribadi terdiri dari tas atau carrier, pakaian, sarung tangan, masker, kaos kaki, sepatu mendaki, jas hujan, matras, sleeping bag, senter atau head lamp, trekking pole, gaiter, kacamata, rain cover, obat-obatan pribadi, alat makan, survival kit. Sedangkan peralatan kelompok terdiri dari tenda, alat masak, tempat air, kotak P3K, dan peralatan lainnya seperti tisu, lap kain, lilin, pisau, golok, korek api, parapin, trash bag atau plastik sampah, webing, dan tali prusik untuk kondisi-kondisi tertentu yang bisa digunakan sesuai situasi dan kebutuhan.
Persiapan terakhir adalah akomodasi. Akomodasi terdiri dari biaya transportasi, pilihan kendaraan, tiket masuk atau perizinan mendaki, surat keterang sehat dari dokter, dan keperluan akomodasi lainnya.
Mendaki bagi saya merupakan hal yang sulit, tapi menjadi mudah jika dipersiapkan secara matang dan baik. Beberapa persiapan di atas adalah perbekalan dasar seorang pendaki. Pada praktiknya, sebuah pendakian tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak kendala juga yang menanti. Namun, jika kita memiliki usaha dan doa yang maksimal dalam menghadapi kendala itu, kita juga akan mendapatkan hasil yang bagus. Seperti halnya pepatah yang mengatakan "Usaha tidak pernah menghianati hasil!" Jika disertai dengan doa tentunya 😊. Jadi bagaimana mendaki menurut Anda?
Komentar
Posting Komentar