BEGPACKER!


 Begpacker! What's that?
Istilah ini cukup terkenal di kalangan pelancong. Begpacker merupakan kegiatan meminta-minta seperti pengemis yang dalam bahasa Inggris disebut seorang beggar atau menjual apapun yang mereka punya dan mereka menggunakan uang hasil kegiatan tersebut untuk biaya jalan-jalan mereka. Dengan kata lain, mereka para begpacker bepergian dengan modal minim atau tanpa modal sama sekali. Meskipun dalam dunia traveling terdapat istilah backpacker di mana orang yang melakukan kegiatan jalan-jalan menggunakan tas besar bahkan ada yang membawa tenda sendiri demi menghemat biaya penginapan. Namun, istilah begpacker cukup terkenal karena maraknya kegiatan tersebut yang terjadi di masyarakat.

Rebecca Gronzki seorang wanita yang menyebut dirinya guru spiritual dan membuat website GoFundMe bertujuan menggalang dana untuk biaya "jalan-jalan spiritual" yang ia lakukan. Bukan hanya itu, ia juga membuat video di Youtube, instagram, dan sosial media lainnya guna mendapatkan dana tambahan dari penontonnya. Ia menargetkan dana sebesar $10,000 dan masih mencapai angka $1,220. Wah angka yang fantastis jika dirupiahkan! Hitung saja sendiri berapa pundi-pundi uang yang terus mengalir untuknya. Lebih mencengangkan lagi, ada sekitar 82 orang yang mendanainya dalam 18 bulan terakhir.

Kegiatan begpacker yang sering kita jumpai adalah kegiatan yang dilakukan oleh para turis asing atau bule yang jalan-jalan ke Indonesia. Mereka biasanya menjual foto-foto tempat wisata yang pernah mereka kunjungi, souvenir, baju, aksesoris, memainkan alat musik, bernyanyi, bahkan ada juga yang menawarkan untuk dipeluk atau sekedar foto bersama. Lucu memang tingkah aneh bule ini. Parahnya, beberapa orang lokal juga meniru dan melakukan kegiatan yang sama demi keberhasilan traveling around the world mereka.

Mengemis

Bermain Alat Musik


Menjual Foto

Walaupun banyak begpacker di Indonesia, masih ada beberapa orang kreatif yang mengumpulkan dana untuk traveling dari hasil konten YouTube mereka yang sangat istimewa. Mengapa saya menyebutnya kreatif? karena, dibandingkan meminta atau menjual sesuatu di jalanan, mereka lebih fokus memberikan manfaat bagi penonton dengan membagikan kisah perjalanan mereka. Tentu saja kisah yang baik dan dapat diterapkan ke kehidupan para viewer. Semakin banyak penonton maka semakin banyak pula bayaran yang mereka terima dari YouTube. Hal ini membuktikan bahwa setiap orang tidak perlu mengemis atau melakukan hal-hal merugikan demi mendanai kegiatan jalan-jalan mereka.

Ricky Santoso
Ada banyak YouTuber traveller Indonesia, tapi satu yang menjadi sorotan saya adalah Ricky Santoso. Nama channel YouTube-nya ricsnt. Awalnya saya tidak terlalu senang menonton YouTube, saya juga tidak men-subscribe channel yang pernah saya tonton, sampai akhirnya saya mengenal channel seorang Ric yang kata teman saya mirip wajah kakak ipar saya. Hal yang pertama saya tonton adalah konten berjudul KIG (Keliling Indonesia Gratis). Ia bermodal uang bayaran YouTube dan memulai perjalanan dari Sabang yaitu Aceh hingga ke Merauke. Saat saya memposting blog ini, ko Ric (sebutan kakak laki-laki untuk orang Cina) sudah memosting KIG yang ke-156 di Luwuk, kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Sudah satu tahun lebih ia melakukan perjalanan itu dengan modal dari Youtube, nebeng sana sini, dan menjual kaos serta topi KIG dengan slogan follow your dream!. Ia juga "menjual" sesuatu, tapi itu alternatif jika ada orang yang ingin menyumbang kegiatannya karena ia tidak menerima dana sumbangan sama sekali. Hasil penjualan kaos dan topi pun tidak banyak jika dibandingkan bayaran dari YouTube. Beberapa viewer atau subscriber cukup membantu dengan tambahkan like dan tanpa men-skip iklan yang ditampilkan di setiap videonya. It's free guys! Konten yang disajikan Ric sendiri sangat menarik, mungkin ada beberapa yang membosankan tapi overall saya sangat menyukainya dibandingkan tayangan jalan-jalan yang sering disiarkan rutin di TV. Meskipun dulu saya menyukai siaran itu, saya rasa tidak banyak manfaat dan pelajaran yang saya dapat.

Dari beberapa hal diatas, bukan berarti saya membenci kegiatan begpacker, but traveling is your passion, desire, your wishes. Kalau orang lain harus mendukung kegiatan traveling Anda dengan menyumbangkan dana, apa manfaat yang mereka dapatkan? Pahala? Tentu saja, itu sudah menjadi catatan di mata Tuhan. Namun alangkah baiknya jika melakukan passion kita dengan sempurna tanpa membebankan sesuatu kepada siapa pun. Kalau ada cara terbaik, mengapa harus menggunakan cara yang biasa saja? Dunia sudah maju, manfaatkan peluang, kreativitas, kemampuan, dan media yang ada dengan sebaik-baiknya tanpa merugikan orang lain. Begpacker hanya untuk pemalas yang tidak mau maju dan menyebabkan kemunduran bangsa. Selagi masih muda, berkaryalah dan petiklah manfaatnya di hari tua. Salam lestari!

Komentar